Mengapa Cikuray??

Gunung Cikuray adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. Gunung Cikurai mempunyai ketinggian 2.821 meter di atas permukaan laut (beberapa sumber mengatakan Cikuray memiliki ketinggian 2818mdpl) dan merupakan gunung tertinggi keempat di Jawa Barat setelah Gunung Gede. Pertama kali ngeliat gunung ini saya langsung terpikat, waktu itu sekitar dua tahun yang lalu kebetulan lagi ke Garut karena tugas dari kantor. Bentuk kerucutnya sempurna. Kabar tentang Track “dengkul ketemu muka”, vegetasi yang rapat, dan hilangnya Reni Komalasari yang sampai artikel ini diterbitkan belum ditemukan semakin membuat keinginan mendaki Cikuray bertambah.

Ikut trip pendakian OANC

Setelah mendaki Gn. Merbabu Desember kemarin otomatis cukup menguras kantong cukup banyak. Itu berarti klo mao naek Gunung lagi dalam waktu dekat, ya berarti yang di daerah Jawa Barta aja biar murah ongkosnya. Cikuray adalah yang paling berpotensi.

Hari Rabu 24 Februari 2010,

Sebelum pulang kantor iseng-iseng buka kaskus, eh ketemu trip ke Cikuray, anak-anak OANC kaskus mau ngadain pendakian ke Cikuray tanggal 26-28 Feb 2010. Langsung diskusi ma faesal (kebetulan duduknya sebelah-sebelahan di kantor,,xixiixi), dan dia bilang “anyok”. Langsung tlp yayang, kabarin klo besok mw naek gunung, dia agak berat tp setelah dirayu-rayu akhirnya boleh juga. Setelah confirm ke OANC dan diperbolehkan ikut, saya dan faesal langsung prepair for trekking besok.

Kamis malam 25 Februari 2010,

Tibalah saatnya untuk memulai perjalanan. Setelah bertemu teman-teman OANC di Kp.Rambutan, setelah menghitung kepala per kepala, langsung naek bus ke Garut, bus AC Ekonomi berangkat sekitar Pukul 23.00 dengan ongkos Rp.35.000.

Jumat 26 Februari 2010,

Bus agak lambat (kayaknya sieh gitu, soalnya tidur pol pas di jalan), baru sampai di Garut  Pukul 04.00 waktu setempat. Sesuai rencana, langsung menuju wisma di deket terminal untuk terusin tidur (tariff/kamar Rp.65.000). Paginya setelah sarapan langsung naik truck yg sudah disiapkan koordinatornya. Untuk kamar wisma dan truck para peserta patungan Rp.50.000. Perjalanan dari wisma ke Pos Pemancar sekitar 1 jam lebih, dan harus registrasi dulu di pos satpam sebelum Pemancar. Oh iya, jalur pendakian kali ini lewat jalur desa Cilawu melewati perkebunan teh Dayeuh Manggung (perkebunan di area dekat Pemancar). Cukup jauh jarak dari jalan raya ke Pemancar, kalau jalan kaki bakalan buang tenaga banget, kalau naik ojek tarifnya 20-35ribu tergantung tawar-menawar.

Rombongan OANC

track menuju pemancar

Sampai di Pemancar langsung cari sumber air. Ternyata di Stasiun-stasiun pemancar yang disitu persediaan airnya tidak bisa diambil karena mereka belum pompa lagi. “Yang mompa lagi libur mas, airnya tinggal sedikit, coba aja cari di kolam (tempat sumber air pompa)” begitu kata yang jaga di salah satu pemancar televise tersebut. Akhirnya ambil air di kolam, lumayan jauh dari pemancar. Setelah ambil air, rombongan sudah pada mulai mendaki, tinggal saya dan faesal dan satu porter yang masih packing air di dirigen yang tadi diambil ke dalam carrier.

Track Pendakian sejak awal sudah cukup miring, saya langsung ngap-ngapan. Dipaksa terus jalan malah yang ditakutin datang juga; paha kanan saya keram. Ini karena kurang nya persiapan fisik sebelum pendakian, biasanya saya seminggu sebelum mendaki setidaknya scot jump tiap pagi. Terus mendaki ngejar yang laen dan akhirnya sampai di Pos Satu sekitar jam Satu siang, rombongan break disini untuk makan siang. Setelah makan roti untuk ngejar waktu sore ini sudah sampai di puncak, langsung lanjutin perjalanan karena  yang lain juga sudah lebih dulu jalan.

Perjalanan terasa begitu berat, track yang jarang bonus, tanjakan yang terjal, ditambah kaki udah gak karuan keram dari paha kanan, ke paha kiri, betis kanan kiri kena juga. Untungnya hari itu cerah, tidak turun hujan setetes pun.

Setelah menghabiskan 1 bungkus counterpain dan 2 lembar koyo cabe, akhirnya sampai juga dipuncak sekitar jam 7 malam. Minum energen hangat dari rombongan yang sudah lebih dulu sampai dan sudah mendirikan tenda, langsung mendirikan tenda di Puncak pas. Puncak Cikuray cukup untuk mendirikan beberapa tenda dan ada satu shelter, tenda di Puncak pas ada 4 Tenda (termasuk saya), yang lainnya mendirikan tenda di lereng sekitar puncak. Malamnya ngobrol-ngobrol sambil ngerokok, mulai dari Band The Doors sampai ganja Aceh jadi bahan obrolan malam itu. Cukup larut kami tidur. Tidak memakai sleeping bag jadi bikin tidur kurang nyenyak, harus sering terbangun karena dinginnya malam di Puncak Cikuray.

malem di puncak

Sabtu 27 Februari 2010

Sekitar jam stengah 6 subuh, semua rombongan sudah berkumpul di Puncak untuk melihat Sunrise. Ikut kumpul juga rombongan-rombongan pendaki lain. Sudah lama saya tidak menyaksikan Sunrise di atas Puncak Gunung. Matahari keluar perlahan dengan warnanya yang merah dan semakin lama semakin menyilaukan dengan sinar putihnya.

sunrise1

sunrise2

sunrise3

sunrise4

sunrise5

sunrise6

sunrise7

sunrise8

Pagi di Puncak

pagi di puncak1

pagi di puncak2

pagi di puncak3

pagi di puncak4

Packing dan sarapan selesai sekitar jam 10 an, kami langsung turun. Ada 4 pendaki yang masih tinggal di puncak untuk camp satu malam lagi. Perlahan, karena truck sudah dijanjikan akan menjemput jam 5 sore di Pemancar. Tidak seperti kemarin, hari ini hujan turun cukup deras. Sesaat sebelum Pemancar, di Track kebun teh, jalan sangat licin, saya terjatuh beberapa kali. Sampai di Pemancar sekitar jam 3 sore, kami berteduh menunggu rombongan yang masih di atas. Truck datang sekitar jam stengah 6 sore, selain rombongan kami, ada juga rombongan pendaki lain yang menumpang truck karena memang jarak dari pemancar ke Jalan Raya cukup jauh.

ngesot

Truck mengantarkan samapi ke Wisma, semua rombongan langsung ceck in, kecuali 4 orang termasuk saya dan faesal yang memutuskan untuk pulang ke Jakarta malam itu juga. Setelah ganti celana yang kotor bekas jatuh di Track kebun teh tadi, kami makan, setelah naik bus, langsung menuju Kp.Rambutan Jakarta. Sampai di Jakarta kami langsung pulang.

***

Cikuray memang berbeda, sampai-sampai kaki kanan kiri keram semua. Salah satu kelebihannya adalah area camp yang cukup banyak di sekitar Puncak.

Menurut porter yang bersama rombongan ; “kalau naik, jangan minum air mentah mas, bikin loyo dan jadi haus terus”.

Cukup jadi pelajaran, naek gunung mendadak seperti ini tanpa adanya persiapan fisik sebelumnya, sangat melelahkan karena harus mengatur kedua kaki yang keram untuk sampai ke Puncak.

Bibliography :

http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Cikuray

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3491618

Egi

Semakin merasa tidak cukup kuat untuk mendaki Semeru