24 Desember 2009

Pagi hari, pukul 08.00 pagi kami ber-6 sampai di stasiun Poncol semarang. Dari depan stasiun Poncol naik bus ¾ jurusan salatiga, bayar 40rb utk 6 orang. Bus ini masuk dulu terminal Terboyo, ngetem sebentar langsung melaju ke Salatiga. Perjalanan ke Salatiga sekitar 1,5jam, turun di pertigaan pasar sapi. Dari Pasar sapi ini kami nyambung lagi naik mobil elf jurusan Ngablak, ongkos 5rb/orang. Stengah jam naik elf disuguhi pemandangan bukit dan perkebunan, kabut cukup tebal dengan jalanan berkelok-kelok seperti di Puncak Bogor.

Rencana awal kami ingin mendaki melalui jalur Wekas, tapi karena dari Ngablak untuk ke Wekas harus nyambung mobil lagi, maka kami mendaki melalui jalur Kopeng Thekelan. Seharusnya untuk mencapai Wekas, bisa hanya dengan satu kali naik mobil ¾ dari Pasar Sapi Salatiga jurusan Magelang.

Sekitar pukul 10.00, Hujan cukup lebat ketika kami sampai di kopeng, kami berteduh di salah satu kenalan Joko disana, sekalian makan (itung-itung sarapan) karena memang orangnya punya usaha warung makan,,hehehe kebetulan. Makan selesai, kami re-Packing untuk bagi-bagi beban di carrier masing-masing. Di stasiun belum sempat re-Packing karena suasana di stasiun ramai dengan calon penumpang lain.

Setengah 12 siang kami berangkat menuju pos pendakian di desa Thekelan. Dari Kopeng ada 2 jalur pendakian, yaitu Kopeng Thekelan dan Kopeng Chuntel. Bagi orang-orang Salatiga dan sekitarnya, jalur Kopeng Thekelan adalah jalur favorit mereka, “lebih dekat sampai ke puncak”, katanya. Hujan masih menemani walaupun tidak cukup deras, hmmm bau tanah subur yang basah memang nikmat.

Tak begitu lama, sampailah di Bumi Perkemahan Umbul Songo, Teman kami Joko hanya mengantar sampai disini. Ditawari untuk ikut sampai ke Puncak, dia nolak,,,hekekeh :p, “ah gile lo” katanya. Sebelumnya Joko juga sudah mendaki Merbabu lewat jalur Thekelan. Joko pulang ke Salatiga, kami melanjutkan perjalanan, niat mendaki Merbabu sudah ada sejak setahun yang lalu, sekarang kami sudah di kakimu, semakin tak sabar. Bumi perkemahan Umbul Songo ini cukup luas di kelilingi pohon-pohon pinus, terdapat toilet dan fasilitas outbond seperti Flying-fox dll. Ada satu rombongan sedang melakukan kegiatan outbond ketika kami sampai disitu, sambil memakai jas hujan kami ngobrol-ngobrol. Mereka dari kru dan staf dari acara reality show “Minta Tolong” yang berkediaman di Jogja. Mereka tidak camping, hanya outing saja.

Perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan setapak berbatu menanjak. Keluar dari kawasan hutan pinus, bertemu dengan kebun penduduk, sebelah kanan terdapat kuburan, belok kiri, keluar ketemu jalan aspal, lah ini kok masih ada jalanan aspal?? Berarti masih bisa di akses dengan kendaraan bermotor dong??.

Satu setengah jam sampailah di basecamp Thekelan. Mayoritas penduduk disini memeluk agama Budha, terlihat dari bangunan rumah-rumah mereka.

Basecampe Thekelan merupakan bangunan rumah penduduk, di Basecamp ini pendaki bisa menginap dan mempersiapkan untuk melanjutkan perjalan, terdapat ruang tidur yang cukup luas untuk menampung belasan pendaki. Disini pendaki bisa memperoleh informasi pendakian, dapat juga menitipkan kendaraan bermotor di Basecamp ini.

Kami sampai di Basecamp thekelan ada Dua Rombongan pendaki lainnya ; rombongan pertama terdiri dari 6 orang dari Surabaya (dari komunitas IMPALA Ikatan Masyarakat Pecinta Alam), rombongan kedua terdiri dari 2 orang Yogyakarta, mereka berdua membawa motor dan dititipkan di basecamp. Untuk menuju Basecamp Thekelan dengan kendaraan bermotor adalah lewat jalan ke kiri sebelum gapura pendakian di kopeng.

Tidak lama kemudian, Dua Rombongan tersebut memulai pendakian, kami masih rapih-rapih melepas jas hujan karena hujan sudah reda. Setelah registrasi kami memulai pendakian, berbekal satu botol air, karena air bisa didapat di pos bayangan Pending sekitar 500mtr dari basecamp.

Beberapa puluh meter dari Basecamp, jalanan aspal sudah berganti dengan jalan setapak di kiri kanan kebun penduduk. Kami sempat diberitahukan oleh Ibu-ibu yang sedang berkebun bahwa jalur pendakian bukan lewat jalan setapak sini, tapi jalan di sebelahnya (kira-kira begitulah, karena si-Ibu ngomong bahasa Jawa yang kami kurang ngerti). Kami pun menurut saja. Kebun penduduk berganti dengan kawasan hutan yang belum terlalu rapat. Kabut tipis menemani perjalanan.

Tidak lama kemudian kami berpapasan dengan rombongan Yogya dan Surabaya yang tadi berangkat lebih dulu. Rombongan mereka ternyata salah jalur pada saat awal pendakian tadi, sehingga mereka memutuskan memotong jalan ke kiri hingga akhirnya bertemu dengan kami. Istirahat sejenak sambil ngobrol2 dengan mereka, rombongan inipun baru pertama kali mendaki gunung Merbabu. Rombongan dari Surabaya (anak-anak IMPALA) berencana untuk turun melalui jalur Selo lalu melanjutkan mendaki Merapi. Selo merupakan sebuah desa pertemuan antara gunung Merbabu dengan Gunung Merapi. Sementra itu, rombongan Yogyakarta berencana untuk summit attack besok subuh dan langsung turun kembali melalui jalur Kopeng Thekelan (karena motor mereka dititipkan di Basecamp Thekelan), mereka berdua hanya membawa 1 tenda dan logistic yg sudah jadi sehingga tidak memakan waktu untuk memasak, hmm benar-benar tracking.

Kami lebih dulu melanjutkan pendakian, setelah rombongan Yogyakarta. Vegetasi hutan masih blm terlalu rapat dan kali ini sudah tidak terlalu berkabut. Kami menghentikan perjalanan karena hujan yang cukup deras, dan berteduh dibawah terpal yang kami bawa, hingga anak-anak IMPALA mendahului. Cukup lama kami terjebak hujan, akhirnya hujan berhenti kami lanjut setelah melipat terpal yg basah. Sialnya tempat kami berteduh tadi tidak jauh dari Pos Pending, hanya belasan meter saja. Di Pos Pending ini terdapat bangunan (shelter) terbuka sekitar 10x6mtr, lengkap dengan atapnya. Walah enak banget tadi harusnya neduh disini, bisa masak mie dan minum kopi hangat, tadi sampe ketiduran pas neduh dibawah terpal sangking lamanya. Pos Pending bisa muat sampai 3 tenda di sebelah shelter dan 2 tenda agak turun kebawah dibelakang shelter. Sumber air disini melimpah, berupa bak tampungan yang aliran airnya dari Pipa.

Disini juga Arek-arek Suroboyo (anak-anak IMPALA) pada neduh dan masak memasak. Duh jadi laper lagi, dan akhirnya kami putuskan untuk ngecamp disini karena hari sudah sore sekitar jam 5an. Gerimis lebat ketika kami bangun tenda disini, Riyan dan Faesal masak di shelter berbagi tempat dengan arek-arek Suroboyo. Hari blm gelap, makanan jadi, makan.

Malam disini cukup dingin karena habis hujan, tapi hembusan angin gunung terhalang pohon-pohon disini jadi gak terlalu membuat menggigil. Arek-arek Suroboyo membuat api unggun, kami ikut nongkrong dan ngobrol bareng, ditemani kopi susu hangat yang dibuat Riyan. Satu-persatu masuk tenda, arek-arek suroboyo mengajak untuk tidur di shelter beralaskan matras berselimutkan sleeping-bag, tapi saya belum tau akan seperti apa dinginnya disini jam 3 pagi nanti, saya masuk tenda. Belum larut kami tidur.