25 Desember 2009

Pagi harinya seperti biasa kami malas bangun terlalu pagi. Riyan yang pertama bangun langsung memasak air dan membuatkan teh panas. Sarapan dengan nasi dan nugget cukup banyak untuk mengisi tenaga karena target kami hari ini puncak. Disini sumber air terakhir sampai ke puncak, karena itu saya buang tabungan disini (ngerti kan,,hekekekeh), menjelang siang kami baru melanjutkan perjalanan, Arek-arek Suroboyo sudah lebih dahulu berangkat.

Masak di Pos Pending

Beres-beres di Pos Pending

Cuaca sangat cerah ketika kami meninggalkan pos pending, vegetasi hutan sudah mulai terbuka, diawal pendakian masih ditemani pinus-pinus. Dilanjutkan melewati lereng gunung, tidak dapat terlalu melihat pundakan-pundakan gunung karena tertutup kabut yang cukup tebal. Tidak terlalu lama sampailah di pos 2, pos 2 berupa shelter kecil ukuran 3×2 meter. Sempat ragu juga karena jalur pipa (terusan pipa pos pending) berada di pundakan lain, takut kalau2 salah jalur. Tapi menurut kertas panduan yang kami dapat di basecamp seharusnya jalur ini sudah benar karena melewati tebing yang batu-batunya berwarna agak keputihan (pereng putih). Akhirnya kami putuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan dengan jalur ini.

track setelah Pos Pending

Track di Pereng Putih

Jarak antara pos 2 ke pos Watu Gubuk lumayan jauh, vegetasi terbuka masih melewati lereng gunung. Kabut semakin tebal dan akhirnya hujan turun lagi, tapi kami tetap melanjutkan pendakian menggunakan jas hujan. Ciri-ciri jalur sebelum sampai di pos Watu Gubuk adalah banyaknya tumbuhan ilalang dan vegetasi hutannya terbuka.

Track sebelum Pos Watu Gubuk

Hujan berhenti sejenak ketika kami sampai di pos Watu Gubuk. Arek-arek Suroboyo terlihat sedang menghangatkan badan sambil makan siang di dalam Watu Gubuk. Di Pos Watu Gubuk ini terdapat batu besar yang berlubang sehingga bisa dimasuki sekitar 3-5 orang. Konon Watu Gubuk ini merupakan pintu gerbang menuju ke dunia gaib. Kami beristirahat sejenak disini sambil foto-foto karena pemandangannya bagus, tidak lama karena kabut kembali datang. Saya menuangkan setengah isi dirigen yang ada di carrier saya ke dirigen yang dibawa Riyan dan Noufal, lumayan ngurangin beban.

Watu Gubuk

Pos Watu Gubuk

Pemandangan dari Pos Watu Gubuk

Pemandangan dari Pos Watu Gubuk_2

Hujan turun lagi ketika kami melanjutkan pendakian, kabut juga bertambah tebal sehingga pos selanjutnya yaitu Puncak Pemancar tidak dapat terlihat. Jalur menurun meninggalkan Watu Gubuk, dan kembali menanjak menuju Puncak Pemancar. Pos pemancar ini dinamakan demikian karena disini terdapat sebuah menara pemancar dengan tinggi kira-kira 60 meter, namun sudah tidak aktif lagi nampaknya. Terdapat sebuah shelter dibawah menaranya yang di kelilingi pagar sehingga kami tidak dapat masuk ke dalamnya.

Track setelah Pos Pemancar

Track setelah Pos Pemancar_2

Tidak lama kami beritirahat di Puncak Pemancar ini, karena awan mendung sungguh membuat kami tidak nyaman dan ingin cepat-cepat sampai di Pucak Kenteng Songo.  Perjalanan dilanjutkan, dari Puncak Pemancar ini jalur menurun, mengikuti jalan setapak berbatu yang di kanan-kirinya tebing seperti jalur puncak Gunung Gede. Istirahat sebentar di Pertigaan yang terdapat Tugu setinggi badan orang.

Pemancar

Setelah pertigaan Tugu, jalur perndakian agak terjal dan menanjak lagi, masih dengan Batu-batu besar dan kiri-kanannya tebing. Ada satu puncakan yang bertuliskan “Puncak Buntu”, kami memilih jalan memutar (tidak menaiki puncaknya) ke sisi kiri. Mulai dari Puncak Pemancar tadi jalur pendakian berada di jalur terbuka, semua puncakan Merbabu dapat terlihat semua jika tidak tertutup kabut. Bentuk tubuh Merbabu yang indah dapat kita nikmati teksturnya. Hanya saja perasaan saya pada saat itu sungguh tidak enak, mungkin karena cuaca yang tidak mendukung dan tidak adanya rombongan pendaki lain yang terlihat.

Punggung Merbabu arah Barat

Sungguh membingungkan karena kami tidak juga sampai di Pos Helipad, itu berarti Puncak tertinggi yg terlihat di depan kami itu bukan Puncak Keteng Songo. Apakah dibalik Puncak tersebut baru bisa terlihat Puncak Kenteng Songo yang merupakan Puncak tertinggi Merbabu. Sungguh bimbang karena cuaca sangat mendung, dan hari sudah mulai gelap, sekitar pukul 5 sore mungkin. Kami terus berjalan, rombongan kami hanya satu-satunya di kawasan tersebut, tidak terlihat rombongan lain selain rombongan arek-arek Suroboyo yang sepertinya membuka tenda di Pos Pemancar yang sudah sangat jauh kami tinggalkan.

Jalur terjal dengan kemiringan sekitar 45-60 derajat menuju puncakan di depan kami, semakin tinggi dan terus meninggi. Berada di tempat terbuka seperti ini memang menakjubkan karena dapat melihat semua tekstur bentuk Gunung Merbabu yang menakjubkan, sangat luas dan meliuk-liuk. Hutan yang masih cukup lebat membuat semua tubuh Gunung Merbabu berwarna Hijau Tua, sperti berada di sebuah brokoli raksasa. Perut sudah mulai terasa lapar lagi, karena kami terakhir makan pagi tadi saat di Pos Pending. Untuk menghemat waktu kami hanya makan cemilan, coklat, dan Gula merah sambil terus mendaki.

Sampailah di sebuah pertigaan yang di depannya hanya sebuah lembah kebawah, jalur ke kiri adalah Puncakan, dan yang kanan adalah Puncakan yang lebih tinggi. Itu berarti ini adalah pertigaan Puncak, ke kiri Puncak Syarief dan ke kanan Puncak Kenteng Songo, lalu dimana Pos Helipad?. Kami menoleh ke belakang, jalur yang tadi kami lewati. Terlihat jalur yang kiri kanannya terbing, dan ada sebuah tanah lapang di sebuah puncakan. Spertinya itulah Pos Helipad, yang tadi bertuliskan “Puncak Buntu”.

Rencana semula ingin mendirikan tenda di Pos Helipad tersebut lalu tracking ke Puncak untuk melihat Sunset lalu bermalam di Pos Helipad, sepertinya tidak terlaksana. Sangat jauh jika kami balik lagi ke Pos Helipad, jika ingin meneruskan sampai Puncak Kenteng Songo juga tidak bisa karena kami belum tahu situasi di Puncak bisa untuk mendirikan tenda atau tidak ditambah hari sudah gelap (sekitar pukul stengah 7 malam), akhirnya kami putuskan untuk bermalam dan mendirikan tenda di pertigaan ini meskipun tempatnya hanya pas untuk satu tenda saja dan sangat terbuka tidak terdapat pohon untuk menahan hembusan angin malam nanti.

Makan malam kami cukup lahap dihangatkan juga dengan teh hangat, kami membicarakan pendakian yang memakan waktu lebih lama dari perkiraan ini, hal itu disebabkan juga karena sepanjang perjalanan selalu di guyur hujan. Saya keluar tenda untuk melihat-lihat pemandangan City Light dari atas sini. Berdiri diatas batu besar dan melihat ke sekeliling hanya gelap, sepertinya memang cuaca lagi mendung sehingga jarak pandang tertutup kabut. Hembusan anginnya sangat dingin, lebih dingin dari puncak Gunung Gede (waktu itu saya camp di puncaknya malam hari juga). Jadi teringat waktu itu saya hanya berdua dengan adit diluar tenda(yang lain di dalam tenda) membuat api unggun, memandangi butiran-butiran cahaya lampu kota dan bintang di langit yang sangat banyak jumlahnya. Pada pendakian kali ini Adit tidak ikut karena kesibukannya bekerja, badannya juga bertambah gendut, naek gunung udah mulai gak kuat kayaknya.

in Tenda

Malam di Pertigaan Puncak

Terlintas pikiran untuk membuat api unggun untuk mengurangi dinginnya, tapi sepertinya sangat sulit mencari kayu di pertigaan ini, akhirnya daripada masuk angin, saya masuk ke tenda gabung dengan yang lain, tidur.