26 Desember 2009

Terbangun sekitar pukul 06.30 pagi, terlambat untuk sunset. Langsung beres2 sleeping bag karena kalau tidak tenda terlihat berantakan, maklum sleeping bag saya tebel banget. Keluar tenda memakai sweater merah (beli di senen 20ribu) dan celana pendek tidak lupa slayer terikat di kepala, udara cukup dingin, tapi tak lama badan mulai terbiasa, lagipula udara saat itu cerah. Masak, sarapan, dan saatnya menikmati pemandangan.

Pertigaan Puncak01

view dari pertigaan01

view dari pertigaan02

view dari pertigaan03

view dari pertigaan04

Merbabu memang sangat indah, gunung ini sangat luas, sejauh pernglihatan saya. Punggungnya memanjang kearah utara, berwarna hijau tua. Terlihat dengan jelas lekuk tubuhnya yang sangat indah.  Sempat ada seekor monyet yang mendekati tenda, untuk mencari makanan tampaknya, monyetnya cukup besar.

monyet merbabu 01

monyet merbabu 02

Dengan membawa kamera faesal, saya lebih dulu menuju ke puncak syarief karena yang lain masih ingin bermalas-malasan di tenda. Dari pertigaan tempat kami mendirikan tenda menuju puncak syarief, hanya sekitar 15 menit dengan jalan berbatu yang terjal dan kemiringan sekitar 45 derajat. Lembah di sisi kanan (arah selatan) terlihat begitu mempesona dengan serbuan kabut yang perlahan mulai menutupinya, terdapat beberapa pohon edelweiss (tapi bunganya blm tumbuh, biasanya edelweiss mulai tumbuh di bulan mei-september), tapi cukup terjal bila ingin menuju kesana, dan tampaknya memang hampir tidak ada pendaki yang kesana karena memang itu bukan termasuk jalur pendakian. Sedangkan di sisi kiri (arah utara), terlihat Puncak Pemancar di kejauhan.

lembah merbabu

Bentuk Merbabu dilihat dari Syarief

Puncak Pemancar dilihat dari Syarief

Puncak Syarief seperti puncak pada umumnya, adalah sebuah tanah lapang yang hanya ditumbuhi beberapa pohon kecil tidak lebih tinggi dari pinggang. Di Puncak ini tampaknya bisa untuk mendirikan 2-3 tenda. Angin cukup kencang disini, sengsara sekali jika mendirikan tenda disini karena tidak ada halangan apapun untuk mencegah angin dingin malam menerpa tenda dengan ganas. Tampaknya ada beberapa pendaki yang singgah tdi tenda kami, mereka sepertinya hendak menuju ke Puncak. Tidak lama kemudian, naufal menyusul saya. Kami foto-foto setelah itu turun kembali ke Pertigaan, yang lain tampaknya kurang berminat ke Puncak Syarief.

Puncak Syarief 3119mdpl

Kenteng Songo dilihat dari Syarief

Track menuju Kenteng Songo

Robby berangkat duluan ke Puncak Kenteng Songo1

Robby berangkat duluan ke Puncak Kenteng Songo2

Robby sudah lebih dulu menuju Puncak Kenteng Songo, dari kejauhan dia terlihat berdua dengan seseorang, tampaknya salah satu pendaki yang singgah tadi. Saya sedikit membereskan berberapa barang yang masih berantakan diluar tenda, kami ingin menuju ke Puncak Kenteng Songo dan meninggalkan tenda disini, karena nantinya pun turun melewati sini lagi. Kami tidak jadi turun melalui jalur Selo karena persediaan air yang menipis dan pertimbangan di Jalur itu tidak terdapat mata air, hal ini sudah dibicarakan semalam.

Riyan masih tidur-tiduran di dalam tenda, dia tidak mau jalan ke puncak (sepertinya dia kurang enak badan karena kemarin diguyur hujan terus tanpa memakai jas hujan). Tapi setelah di paksa akhirnya dia berangkat juga, tanggung banget jika tidak sampai di Puncak yang sudah di depan mata, apalagi cuaca cerah dan kami tidak membawa beban carrier. Berbekal air satu botol, kami berempat(saya, faesal, riyan, naufal) menyusul Robby yang sudah lebih dulu berangkat ke Puncak Kenteng Songo, puncak tertinggi Merbabu.

Menuju ke Puncak Kenteng Songo, jalurnya melewati punggungan yang kiri kanannya tebing, untuk menghindari melewati satu puncak bukit, kita juga harus ambil jalan memutar di sisi kiri tebing. Setelah itu harus berpegangan di batu-batu tebing karena sempitnya pijakan, dilanjutkan dengan menaiki tebing dengan kemiringan sekitar 60 derajat dengan track tanah (sepertinya bekas longsoran)dan harus berpegangan dengan akar pohon, cukup berbahaya kalau malam hari karena jalur menuju ke puncak tidak terlihat dengan jelas. Robby sudah memanggil di atas puncak, membuat langkah kami semakin cepat.

Track Kenteng Songo1

Track Kenteng Songo2

Track Kenteng Songo3

Track Kenteng Songo4

Lereng arah barat

Akhirnya kami semua sampai di Puncak Kenteng Songo. Disini lebih luas dari Puncak Syarief, dan terdapat 5 batu berlubang (menurut mata batin paranormal terdapat 9 batu – asal kata Kenteng Songo) yang berisi air hujan dan ada taburan bunga, batu yang dikeramatkan. Arah selatan terlihat puncak Merpapi yang dengan gagah memuntahkan asapnya, arah utara terlihat Gn.Telomoyo dan Gn.Ungaran, dan sangat jauh di arah barat terlihat gunung Sumbing dan Sindoro, kami jelas berada di atas awan, di puncak gunung yang cantik.

Puncak01

Puncak02

Puncak03

Puncak04

Ada tiga pendaki dari Yogyakarta selain kami di puncak ini. Rombongan mereka (sekitar 6 orang termasuk 1 wanita) mendirikan tenda di Pos 2 jalur Wekas, mereka bertiga meninggalkan tenda sangat jauh untuk sampai di Puncak. Setelah ngobrol dengan mereka, kami memutuskan untuk turun melalui jalur Wekas, yang di pos 2 terdapat sumber air. Mereka lebih dulu turun untuk menuju ke Puncak Syarief.

Puncak dengan latar Merapi

Puncak Merapi

Sekitar satu jam kami di Puncak, setelah itu langsung turun menuju ke tenda. Ditengah jalan kami bertemu kembali dengan Arek-arek Suroboyo, mereka baru akan menuju ke puncak. Mereka tetap dengan rencana awal, turun melalui jalur Selo. Saya bilang kalau rombongan kami tidak jadi turun lewat Selo karena cadangan air sudah tidak cukup, mereka bilang “management kurang bagus berarti”. Hehehe sial, ini gara-gara saat mendaki kemarin gak ketemu sama Pos Helipad yang katanya disitu ada sumber air.

Jingrem di puncak sebelum turun

Track turun dari puncak lewat Lereng sempit

Sampai di Pertigaan kami langsung bongkar tenda dan packing, turun melalui jalur Wekas, hari masih siang sekitar jam 11.00. Di area pos Helipad, banyak pendaki lain sedang menuruni tebing untuk mencari sumber air. Tapi tampaknya sumber air disini lagi kering, salah satu dari mereka bilang begitu, hingga kami tidak jadi mengambil air di Pos Helipad. Kami lanjut turun dengan persediaan air yang tampaknya masih cukup untuk sampai di Pos 2. Tidak lama kemudian sampai di pertigaan yang terdapat Tugu setinggi orang. Jika lurus menuju ke Pemancar dan kembali ke Jalur Kopeng Thekelan, kami ambil jalur kekiri menuju ke Wekas.

Siap untuk Turun dari Pertigaan Puncak

Track turun dari Pertigaan Puncak

Pertigaan Jalaur Kopeng dan Wekas

Pertigaan (jika lurus kembali ke Pemancar)

Vegetasi cukup rapat di jalur ini, bertemu Pipa air dan terus mengikutinya sampai ke Pos Dua. Sekitar dua jam kami sampai di Pos Dua. Pos Dua merupakan area yang luas, sangat cocok untuk mendirikan tenda, karena disini bisa untuk belasan tenda. Sumber air nya berupa sambungan Pipa air yang sedikit longgar(memang sengaja dilonggarkan), air bersih mengucur deras dari Pipa tersebut. Pemandangannya juga sangat bagus, Sindoro Sumbing terlihat lebih dekat, dan Punggungan puncak Keteng Songo di sebelah selatan menambah hijau pemandangan disini.

Kami break disini untuk memasak makan siang. Betemu sumber air melimpah, inilah yang ditunggu robby karena dia ingin memasak sop. Saat sudah mulai memasak, turun hujan cukup deras, kami membuat bivak darurat dengan terpal untuk menutupi carrier dan kompor dari air hujan. Menunggu hujan yang tak kunjung berhenti, membuat kami akhirnya mendirikan tenda dan akan bermalam lagi disini (kayaknya bakalan cabut kerja lagi nih,,heheheh). Ditambah suasana di Pos Dua ini memang sangat pas untuk nge-camp.

Akhirnya malah jadi buka tenda lagi di Pos 2

Memang tepat keputusan untuk nge-camp di Pos Dua ini, disini kami pesta makan dari logistic yang tersisa, sop buatan Robby rasanya mantap, dipadu dengan nasi buatan saya yang kebetulan lagi enak juga. Malam tiba, kami ngobrol ditemani teh hangat, dan makan lagi,heheheh. Susah payah membuat api unggun, tapi akhirnya jadi dan cukup menghangatkan. Agak larut saya baru masuk tenda dan menutup relsleting tenda dari dalam, tidur dengan perut kenyang😀.

Camp di Pos 2